Analisis Situasi P2KPN PDF Print E-mail

Pengangguran merupakan salah satu masalah rumit yang sering dihadapi banyak negara di dunia ini. Demikian halnya dengan Indonesia, pengangguran saat ini menjadi momok yang menakutkan, apalagi jika permasalahan tersebut tidak diantisipasi dengan langkah strategis yang lebih nyata. Badan Pusat Statistik (BPS) dalam publikasinya mengungkapkan bahwa pengangguran terdidik di Indonesia terus mengalami peningkatan sejak beberapa tahun terakhir, sementara jumlah penganggur tidak terdidik makin turun. Melonjaknya jumlah pengangguran dari kalangan intelektual membuat tugas pemerintah untuk menciptakan lapangan kerja juga akan semakin sulit.

Dalam catatan BPS, jumlah pengangguran di Indonesia pada Februari 2009 mencapai 9.259.000 orang. Dari jumlah itu, jumlah pengangguran dengan pendidikan tinggi (sarjana) mencapai 626.600 orang, diploma sebesar 486.400 orang, SLTA kejuruan 1.337.600 orang, SLTA umum 2.133.600 orang, SLTP 2.054.700 orang, SD 2.143.700 orang, tidak tamat SD 416.000 orang dan belum sekolah 60.300 orang. Sementara pada Februari 2005 menunjukkan penganggur dengan pendidikan tinggi (sarjana) mencapai 385.400 orang, kemudian naik pada Februari 2007 menjadi  409.900 orang, dan meningkat lagi pada Februari 2008 menjadi 626.200 orang.

Realitas tersebut di atas tentu harus ditangani dengan langkah nyata  yang lebih terencana dan terukur, sehingga angka penganguran tersebut dapat ditekan. Salah satu langkah nyata untuk menekan angka pengangguran adalah dengan mendorong tumbuhkembangnya wirausaha-wirausaha baru, khususnya dari kalangan generasi muda di Indonesia. Salah seorang pakar, McClelland mengemukakan bahwa suatu negara dapat dikatakan makmur jika memiliki wirausahawan (entrepreneur) sebanyak 2% dari total populasi penduduknya. Saat ini, Indonesia baru memiliki sebanyak 0,18% wirausahawan, angka ini sungguh masih jauh dari harapan.

Pakar kewirausahaan, Thomas Zimmerer  menyatakan bahwa salah satu faktor pendorong pertumbuhan jumlah wirausahawan adalah pendidikan kewirausahaan. Douglas A. Gray juga menyarankan untuk memulai usaha sejak dini misalnya pada waktu masih kuliah. Perguruan Tinggi dapat berperan menjadi penyedia informasi tentang berbagai kesempatan berwirausaha, memberikan pendidikan kewirausahaan, serta memberikan wadah dan akses bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensinya dalam berwirausaha. Sayangnya, paradigma yang terbangun di sebagian besar Perguruan Tinggi di Indonesia adalah membentuk suatu pola pikir bagi lulusannya untuk mencari pekerjaan, bukan menciptakan lapangan kerja.

Program Pengembangan Pusat Kewirausahaan dan Produktivitas Nasional (P2KPN) yang diluncurkan Pemerintah melalui Direktorat Kelembagaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementrian Pendidikan Nasional merupakan salah satu program kongkrit untuk mengatasi permasalahan pengangguran di atas dengan mendorong tumbuhkembangnya wirausaha-wirausaha baru dari dunia perguruan tinggi. Program ini diharapkan dapat mewadahi mahasiswa pada khususnya dan civitas akademika pada umumnya untuk menumbuhkembangkan budaya kewirausahaan. Program ini juga diharapkan dapat memotivasi mahasiswa untuk merubah paradigma dari pencari kerja menjadi pencipta pekerjaan. P2PKN memiliki tujuan untuk; meningkatkan dinamika pengembangan pendidikan kewirausahaan di perguruan tinggi, meningkatkan pengelolaan kegiatan kewirausahaan yang lebih terkoordinasi serta bersinergi di dalam sebuah perguruan tinggi, memungkinkan paduan dinamis kegiatan kewirausahaan bagi civitas akademik, dan meningkatkan jumlah usaha yang tumbuh dari perguruan tinggi.

Sejalan dengan program Direktorat Kelembagaan Dirjen Dikti Kemendiknas tersebut di atas, STIE Ahmad Dahlan Jakarta sebagai salah satu perguruan tinggi yang berada di tengah-tengah masyarakat, memiliki tekad yang kuat untuk mengimplementasikan program Pengembangan Pusat Kewirausahaan dan Produktivitas Nasional (P2KPN). Pendirian P2KPN di STIE Ahmad Dahlan Jakarta juga akan mendukung implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Dalam dharma pendidikan, program ini dapat meningkatkan dinamika pengembangan kurikulum pendidikan kewirausahaan yang diwujudkan dalam mata kuliah kewirausahaan. Dalam dharma penelitian, program ini dapat mendorong kegiatan riset tentang pengembangan budaya kewirausahaan di perguruan tinggi, langkah-langkah pemecahanan berbagai masalah wirausaha, serta kesempatan dan akses bagi mahasiswa untuk berwirausaha. Sementara dalam dharma pengabdian kepada masyarakat, program P2KPN ini jelas akan berimplikasi kepada masyarakat, yaitu mampu menyentuh persoalan-persoalan yang terjadi di masyarakat khususnya menyangkut pengentasan masalah pengangguran dan kemiskinan.

Penyelenggaraan program P2KPN di STIE Ahmad Dahlan Jakarta memiliki target hasil akhir yang diharapkan, yaitu antara lain; i) Berdirinya P2KPN di STIE Ahmad Dahlan Jakarta; ii) tersosialisasinya program P2KPN kepada seluruh civitas akademika dan stakeholders STIE Ahmad Dahlan Jakarta; iii) semakin bertambahnya dosen dan mahasiswa yang terlibat dalam program P2KPN; iv) semakin bertambahnya karya kreatif kewirausahaan yang dihasilkan mahasiswa; v) semakin bertambahnya mahasiswa dan alumni STIE Ahmad Dahlan Jakarta yang menciptakan lapangan pekerjaan (job creator); vi) program P2KPN terjaga keberlanjutannya sehingga terus mendorong tumbuhnya wirausaha baru secara berkesinambungan.

Tujuan dan hasil akhir yang diharapkan dari program P2KPN sebagaimana dipaparkan di atas seyogyanya dapat diwujudkan secara gradual dan hal ini merupakan kontribusi kongkrit perguruan tinggi bagi pengembangan budaya kewirausahaan di Indonesia. Dengan tumbuhnya wirausaha baru yang berasal dari mahasiswa dan lulusan STIE Ahmad Dahlan Jakarta tentu akan membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat dan berkontribusi secara riil bagi kemajuan perekonomian bangsa. Dengan capaian tersebut tentunya juga akan mendorong peningkatan produktivitas nasional.

Program pengembangan budaya kewirausahaan di STIE Ahmad Dahlan Jakarta selama ini telah berjalan dengan baik. Pengembangan budaya kewirausahaan di kalangan mahasiswa dimulai dari kegiatan perkuliahan (lebih bersifat akademis-teoritis), kegiatan pelatihan kewirausahaan bagi mahasiswa, seminar kewirausahaan, penggalian hobi mahasiswa menjadi bisnis (termasuk dalam bidang kesenian), pelatihan membuat business plan, kegiatan observasi dan kunjungan industri, serta kegiatan-kegiatan lain yang dapat memacu tumbuhnya jiwa-jiwa kewirausahaan di kalangan mahasiswa. Dampak luaran dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan, telah banyak jumlah mahasiswa dan alumni STIE Ahmad Dahlan yang terjun ke dunia wirausaha dan berhasil menjadi wirausaha yang mandiri.

Penciptaan wirausaha baru yang berasal dari mahasiswa dan alumni STIE Ahmad Dahlan Jakarta merupakan langkah nyata bagi pengentasan kemiskinan dan pengangguran, serta peningkatan kemakmuran masyarakat secara umum. Harapan ini dapat diwujudkan apabila didukung oleh komitmen yang kuat dari semua pihak untuk menggali dan memberdayakan potensi yang dimiliki. Usaha-usaha baru yang dapat dikembangkan mahasiswa dan alumni, bisa dimulai dari usaha yang berskala mikro, kemudian bergerak menuju usaha kecil, dan menjadi skala menengah. Merupakan hal yang mungkin terjadi di masa depan, apabila usaha mikro-kecil yang dijalankan dengan baik, bisa menjadi usaha berskala menengah dan besar.

Atas dasar uraian di atas, maka program P2KPN di STIE Ahmad Dahlan Jakarta diharapkan menjadi pendorong utama bagi pengembangan budaya kewirausahaan, menjadi pusat unggulan yang mampu melahirkan wirausaha-wirausaha muda, serta memacu peningkatan produktivitas nasional. Niat baik dan komitmen tersebut tentu harus diimplementasikan dengan tindakan nyata yang lebih operasional dan terencana dengan baik.